LeTs Join!!!

GeT THE  Information Here..........!!

Senin, 06 Juli 2009

Hidrolisis Garam

Minggu, 21 Juni 2009

LOGAM, METALLOID dan NONLOGAM


Pada table periodik kita dapat mengelompokkan unsur secara umum menjadi 3 kelompok :

· Bagian kiri tabel periodik kita menemukan logam

· Bagian kanan atas adalah nonlogam

· Metalloid (sifatnya antara logam dan nonlogam) ditemukan pada posisi tertentu, dari Boron sampai Astatin ( B, Si, Ge, As, Sb, Te, Po, Al).

Sifat Fisika Logam :

1. Kristal logam merupakan struktur elektronik dari Kristal atom logam yang memiliki energi ionisasi yang rendah, oleh karena itu atom logam cenderung melepaskan elektronnya dengan mudah. Logam cenderung melepaskan elektron daripada menangkap elektron/berikatan dengan lainnya untuk mencapai stabil.

2. Logam mengkilat

Logam akan memantulkan sinar yang datang dengan panjang gelombang dan frekuensi yang sama.

3. Logam dapat menghantarkan panas ketika dikenai sinar matahari, sehingga logam akan sangat panas (terbakar), tetapi nonlogam hanya terasa hangat. Hal ini disebabkan karena energy kinetik dihantarkan secara cepat melalui electron.

4. Malleability

Yaitu kemampuan logam untuk ditempa/dirubah menjadi bentuk lembaran. Sifat ini digunakan oleh Blacksmith untuk membuat sepatu kuda dari batangan logam. Gulungan baja (besi) penggiling menggunakan sifat ini saat mereka mengulung batangan baja menjadi lembaran tipis untuk pembuatan alat-alat rumah tangga.

5. Ductility

Kemampuan logam dirubah menjadi kawat. Kawat Cu dirubah menjadi lebih tipis dan tipis lagi.

6. Titik leleh yang tinggi

Titik leleh paling rendah adalah -38,9o C (digunakan sebagai cairan dalam termometer. Tungsten memiliki TL yang paling tinggi, 3400oC (digunakan sebagai kawat pijar dalam bola lampu).

· IA umumnya TL rendah , Na (98oC)

· IIA lebih tinggi TL dibanding IA, hal ini disebabkan karena muatan IIA lebih besar (+2) dalam kristal (kation) sehingga lebih banyak lautan elektronnya (lebih kuat/rapat) dibanding +1 (IA) dalam Kristal.

· Logam Transisi ( Periode IV) : TL nya bervariasi , meningkat dari Sc, Ti, V, Cr, lalu menurun di Mn, perlahan meningkat ke Fe, lalu turun lagi ke Co, Ni, Cu, Zn.

Variasi ini disebabkan karena adanya elektron d yang tidak berpasangan dalam atom dan disebabkan adanya derajaat kovalen yang muncul.

· Logam Transisi ( periode VI ) : TL tertinggi adalah Lanthanum

Sifat titik leleh menunjukkan kekerasan logam (hardness), TL yang tinggi artinya logamnya keras, TL rendah artinya logamnya lemah. Logam transisi yang berada di tengah (Cr, Fe, sering digunakan karena keras dan kuat).

Sifat Kimia Logam :

1. Mudah dioksidasi

Beberapa logam seperti Gold (emas) dan Pt, tahan terhadap oksidasi, dan digunakan sebagai perhiasan. Logam-logam ini disebut logam mulia.

Cara melihat kemudahan Oksidasi Logam :

1. Reaksi dengan Asam (Hidrogen sebagai pengoksidasi)

Logam IA dan IIA

Logam IA : adalah logam sangat reaktif bereaksi dengan H2O

2Na(s) + 2H2O menghasilkan 2 NaOH(aq) + H2(g)

Dalam satu golongan, semakin kebawah akan semakin kuat (reaktif).

Logam IIA :

· Kurang reaktif dibandingkan IA (karena Energi Ionisasinya lebih besar untuk melpaskan 2 elektron terluar)

· Ca, Sr, Ba, Ra, bereaksi lambat dengan air

· Mg kurang reaktif (tidak bereaksi dengan air), karena dilapisi oleh oksigen pada permukaannya

· Be lebih kurang reaktif dibanding Mg

Logam Transisi

· Periode 4 bereaksi (larut) dalam asam (HCl dan H2SO4)

Mn(s) + 2HCl(aq) menghasilkan MnCl2(aq) + H2(g)

Zn(s) + HCl(aq) menghasilkan ZnCl2(aq) + H2(g)

Pengecualian :

Cu, Ag, Hg Tahan terhadap asam (HCl dan H2SO4), larut dalam HNO3

( tergantung konsentrasi ).

Cu + 2NO3- + 8 H+ menghasilkan 3Cu2+ + 2 NO + 4H2O (HNO3)

Cu + 2NO3- + 4H+ menghasilkan Cu2+ + 2NO2 + 2H2O (HNO3pekat)

Pt, Ir, Au; tahan terhadap asam (HCl, H2SO4, HNO3), tapi larut dalam aqua regia (HClpekat + HNO3 pekat)

2. Tingkat Oksidasi Logam

Tingkat oksidasi suatu logam tergantung pada konfigurasi elektronnya.

· Golongan IA dan IIA : memiliki 1 tingkat bilangan oksidasi

· Golongan IIIA, IVA, VA : 2 tingkat oksidasi, yaitu hilangnya elektron dari p dan hilangnya electron dari p dan s.

“Semakin rendah tingkat oksidasi, maka akan semakin stabil”.

Contoh :

Golongan IIIA : Al (3+), Talium (+1 dan +3), pada Talium +1 lebih stabil dibandingkan +3

· Logam transisi memiliki tingkat oksidasi yang banyak. Unsur ini memiliki electron d yang setengah penuh, electron yang lepas selalu dari kulit yang terluar (electron di s keluar terlebih dahulu)

Contoh :

Fe [Ar] 3d6 4s2

Fe2+ [Ar] 3d6

Rabu, 17 Juni 2009

sifat fisika air

video
Video ini diambil dari internet....!!!untuk menambah pengetahuan kita!!

Selasa, 16 Juni 2009

TREND IN METALLIC BEHAVIOUR (TREND SIFAT LOGAM)


Tidak semua logam bersifat seperti logam sepenuhnya, terutama pada sifat kimianya. Sebagai contoh, umumnya kita berfikir bahwa senyawa terbentuk dari logam dan halogen seperti Klorin dan Bromin adalah bersifat ionik. Berilium klorida (BeCl3), akan bersifat konduktor listrik saat meleleh, hal ini memberikan kesan bahwa molekul ini terdiri dari ion-ion. Unsur Alumunium membentuk Al2Cl6 dan Al2Br6 yang bergabung dengan ikatan kovalen, bukan ikatan ion.

Pada tabel periodik terdapat gejala kecenderungan atom-atom untuk membentuk ikatan kovalen. Ikatan ionik terbentuk antara unsur Logam yang paling kiri dalam tabel periodik dengan unsur nonlogam dari sudut kanan paling atas. Unsur nonlogam dan nonlogam akan bergabung dengan ikatan kovalen. Faktor penentu kedua atom tersebut berikatan adalah elektronegatifitas antara kedua atom yang berikatan.

Semakin besar perbedaan keelektronegatifan antara kedua atom yang berikatan, maka akan semakin bersifat ionik, semakin kecil perbedaan keelektronegatifannya maka akan semakin bersifat kovalen.

Logam memiliki elektronegatifitas , energi ionisasi dan afinitas elektron yang rendah. Sedangkan Nonlogam memiliki elektronegatifitas yang tinggi.

Elektronegatifitas meningkat dari kiri ke kanan dalam satu periode. Jika dibandingkan, ikatan yang dibentuk oleh logam dengan nonlogam(misalkan Chlorine) akan berkurang ionik dari kiri ke kanan. Hal ini disebabkan karena perbedaan keelektronegatifannya makin kecil. Pada periode 2 dapat dilihat : LiCl , BeCl2, BCl3. LiCl adalah senyawa ionik dan menghantarkan arus listrik dalam bentuk lelehannya. BeCl2 kurang bersifat konduktor dalam bentuk lelehan, hal ini mengidentifikasi bahwa pada Be-Cl terdapat ikatan kovalen. Sama halnya dengan BCl3 yang juga berikatan kovalen.

Elektronegatifitas akan berkurang/menurun dalam satu golongan dari atas ke bawah. Senyawa logam-nonlogam akan menjadi lebih ionik jika logamnya semakin kebawah dalam satu golongan. Golongan IIA, seperti BeCl2 adalah kovalen, tapi MgCl2 adalah ionik. Dalam golongan IIIA, pada senyawa BCl3 ; Boron tidak mampu membentuk ion B3+. Sementara AlCl3 menjadi ionik dalam bentuk padatan dan dalam bentuk uap sebagai Al2Cl6.

Karakteristik logam dari suatu unsur juga dapat dilihat dengan membandingkan sifat asam dan basa.

Oksida logam seperti Na2O bersifat basa dan bereaksi membentuk hidroksida.

Na2O + H2O menghasilkan 2NaOH

Oksida nonlogam bersifat asam, membentuk asam jika bereaksi dengan air.

SO3 + H2O menghasilkan H2SO4

Sifat asam dan basa ini dapat digunakan sebagai indikator karakter logam.

Ditinjau pada periode 2 , kecenderungan karakter logam terlihat jelas, Oksida Litium (Li2O) bereaksi dengan asam :

Li2O(s) + 2HCl(aq) menghasilkan 2LiCl(aq) + H2O

LiOH bereaksi dengan asam, tetapi tidak bereaksi dengan basa. Hal ini membuktikan bahwa Litium adalah unsur logam. Pada senyawa Berilium Oksida (BeO) yang bersifat lebih inert(tahan terhadap reaksi kimia) dapat bereaksi dengan asam ataupun basa dalam kondisi tertentu. Be(OH)2 juga mampu bereaksi dengan asam dan basa, oleh karena itu disebut amphoter (memperlihatkan karakteristik asam dan basa). Karena Berilium memperlihatkan karakteristik asam sementara senyawa Litium murni basa, maka Berilium kurang bersifat logam dari Litium. Sementara Boron kurang bersifat logam dari Berilium karena oksidanya hanya menunjukkan sifat asam.

Penurunan Sifat logam juga terlihat pada periode 3 dari kiri ke kanan. Na dan Mg membentuk hidroksida yang hanya bereaksi dengan asam. Sementara Alumunium bersifat amphoter, hal ini menunjukkan bahwa sifat logam Alumunium kurang dari Na dan Mg. unsur bebas Alumunium sama dengan oksida dan hidroksidanya, dapat bereaksi dengan asam dan basa.

2Al(s) + 6H+ (aq) menghasilkan 2Al3+ (aq) + 3H2(g)

2Al(s) + 2OH- (aq) +2H2O menghasilkan 2AlO2- (aq) + 3H2(g)

Senin, 08 Juni 2009

contoh penelitian kualitatif...."Persepsi dan Perilaku merokok di kalangan siswa STM"

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelajar adalah aset suatu bangsa yang perlu dididik untuk menjadi manusia yang berkualitas secara jasmani dan rohani. Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada generasi penerusnya. Jika generasinya memiliki kebobrokan moral dan perilaku, maka bisa dipastikan bangsa tersebut diambang kemunduran. Kebobrokan moral dan perilaku inilah yang menjadi masalah terbesar di saat ini. Kebobrokan atau perilaku menyimpang sudah tidak menjadi pemandangan yang langka lagi, seperti: tawuran, narkoba, free sex, sering berkunjung ke diskotik dll.

Salah satu perilaku yang sangat merusak generasi muda saat ini adalah perilaku merokok. Efek dari rokok/tembakau dapat memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran , tingkah laku dan fungsi psikomotor (Roan, Ilmu kedokteran jiwa, Psikiatri ,1979 : 33). Tidak hanya itu, merokok juga menyebabkan penyakit jantung, tekanan darah tinggi, penyumbatan pembuluh darah, dll. Hal ini sangat membahayakan sekali bagi semua pihak terutama pelajar sebagai penerus. Bagaimana mungkin akan terbentuk generasi yang berkualitas, sementara mereka telah terbius oleh efek negatif dari rokok/tembakau.

Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui persepsi dan perilaku merokok di kalangan siswa terutama siswa STM. Hal ini karena pelajar STM didominasi oleh laki-laki yang merupakan konsumen rokok paling utama. Dengan demikian akan dapat diketahui bagaimana persepsi dan perilaku merokok di kalangan pelajar serta hal – hal yang menyebabkannya. Dengan demikian akan dapat dicari suatu solusi untuk menghindari terjadinya perilaku merokok ini dikalangan pelajar.

B. Masalah dan Fokus Penelitian

1. Masalah

Selain merusak kesehatan merokok juga dapat menyebabkan penurunan daya tangkap, tingkah laku dan psikomotor seseorang. Hal ini tentu sangat membahayakan bagi pelajar, karena mereka merupakan generasi penerus yang masih dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Bagaimana mungkin pelajaran dapat diserap dengan baik, sementara daya tangkap berkurang, dan kreativitas menurun, serta pola berpikir pelajar yang sudah menuju penyimpangan.

2. Fokus penelitian

STM (Sekolah Teknik Menengah) merupakan sekolah yang sangat didominasi oleh pelajar laki – laki. Mereka sangat rentan terhadap rokok. Sangat menarik untuk mengetahui persepsi dan perilaku merokok mereka. Dengan demikian hal – hal yang menyebabkan perilaku merokok tersebut dapat diketahui .

3. Pertanyaan Penelitian

a. Bagaimana persepsi pelajar STM terhadap merokok?

b. Bagaimana perilaku merokok di kalangan pelajar STM?

c. Hal – hal apa yang menyebabkan mereka merokok?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persepsi dan perilaku merokok di kalangan pelajar STM. Selain itu juga untuk mengetahui hal – hal yang menyebabkan perilaku itu terjadi di kalangan mereka.

D. Kegunaan Penelitian

Dengan mengetahui persepsi dan perilaku merokok di kalangan STM ini, maka dapat dilakukan suatu usaha pencegahan agar perilaku tersebut dapat dihindari oleh pelajar.

BAB II

KAJIAN TEORI

1. Pengertian Persepsi

Kata persepsi memiliki beberapa makna, berikut dikemukakan beberapa pengertian tentang persepsi. Sarwono ( 1997 : 94) mengungkapkan bahwa “persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan (penglihatan, pendengaran, perabaan dan sebagainya ) “. Persepsi merupakan suatu proses yang terjadi pada seseorang yaitu proses memahami atau memberi makna terhadap setiap informasi yang diterima oleh seseorang melalui alat indra, dan selanjutnya seseorang mempersepsi atau memahami informasi yang mereka terima. Berkaitan dengan pengertian persepsi, Gibson (dalam Andrew, 1983; 74) mengungkapkan “Perception is a proses by which the brain selects, organize and interprets the sensation”. Penjelasan ini menunjukkan bahwa fungsi dari persepsi adalah untuk membantu orang memahami setiap informasi yang datang dari luar melalui indera secara logis dan teratur.

2. Konsep perilaku

Dalam kamus bahasa Indonesia Depdikbud (1997) perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Tanggapan atau reaksi tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan, perbuatan atau tindakan yang bertujuan sesuai dengan sifat rangsangan itu sendiri. Berarti perilaku adalah suatu respon yang merupakan akibat dari adanya rangsangan sebagai penyebab.

Menurut Thorndike (dalam Rakhmat, 1993) perilaku adalah hasil pengalaman. Perilaku digerakkan oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan. Adanya stimulus (s) akan menimbulkan suatu respon (r) tertentu. Intensitas hubungannya akan menjadi kuat manakala diikuti suasana yang menyenangkan atau sebaliknya.

Menurut Ross (dalam Rakhmat,1993) menyatakan bahwa faktor situasional atau fakor lingkungan yang paling berperan dalam perkembangan perilaku individu. Sedangkan menurut Sampson (dalam Rakhmat,1993) menyimpulkan bahwa interaksi kedua faktor yaitu personal dan lingkunganlah yang mempengaruhi perilaku. Hal ini sesuai dengan pendapat Jung (dalam Efendi,1985) bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku, yaitu : faktor pembawaan (Heredity) dan faktor lingkungan (environment).

3. Tipe perilaku merokok

Berdasarkan Management of affect theory, Silvan Tomkins (dalam Al Bachri,1991) ada 4 tipe perokok yaitu :

1. Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan merokok seseorang merasakan penambahan rasa yang positif.

Green (dalam Psychological Factor in Smoking, 1978) menambahkan ada 3 sub tipe ini :

a. Pleasure relaxation perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.

b. Stimulation to pick them up Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.

c. Pleasure of handling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa dengan tembakau sedangkan untuk menghisapnya hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Atau perokok lebih senang berlama-lama untuk memainkan rokoknya dengan jari-jarinya lama sebelum ia nyalakan dengan api.

2. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak orang yang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif, misalnya bila ia marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi,sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.

3. Perilaku merokok yang adiktif. Oleh Green disebut sebagai psychological Addiction. Mereka yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Mereka umumnya akan pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah malam sekalipun, karena ia khawatir kalau rokok tidak tersedia setiap saat ia menginginkannya.

4. Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah menjadi kebiasaannya rutin. Dapat dikatakan pada orang-orang tipe ini merokok sudah merupakan suatu perilaku yang bersifat otomatis, seringkali tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan api rokoknya bila rokok yang terdahulu telah benar-benar habis.

4. Hal – hal yang menyebabkan perilaku merokok

1. Pengaruh 0rangtua

Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294). Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok/tembakau/obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri", dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya. Perilaku merokok lebih banyak di dapati pada mereka yang tinggal dengan satu orang tua (single parent). Remaja akan lebih cepat berperilaku sebagai perokok bila ibu mereka merokok dari pada ayah yang merokok, hal ini lebih terlihat pada remaja putri (Al Bachri, Buletin RSKO, tahun IX, 1991).

2. Pengaruh teman

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)

3. Faktor Kepribadian

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson, 1999).

4. Pengaruh Iklan

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).



BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu berusaha mengungkapkan kajian persepsi dan perilaku pelajar tentang merokok. Hal ini senada dengan pendapat Abizar (1999) yang menyatakan bahwa tujuan utama penelitian kualitatif adalah menentukan makna dibalik tingkah laku lahiriah manusia sebagai anggota masyarakat dimana masalah fenomologis merupakan salah satu basis bagi penelitian kualitatif.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di STM 1 Padang. Dimana jumlah mayoritas tertinggi pelajarnya adalah laki-laki.

C. Informan

Didalam penelitian ini, peneliti merupakan instrument kunci yang sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif. Untuk itu penulis secara individu akan turun ke tengah-tengah masyarakat guna memperoleh data dari informan. Pemilihan informan dilakukan secara purposive, yaitu atas dasar apa yang kita ketahui tentang variasi-variasi yang ada (Sanapiah, 1990). Adapun yang menjadi informan adalah pelajar STM itu sendiri yang sukarela memberikan informasi.

Penentuan informan di atas didasarkan pada pendapat Spradley dalam Sanapiah (1990) yang menyatakan bahwa informan adalah mereka yang terlibat langsung dalam aktivitas yang menjadi objek perhatian.

D. Teknik pengumpulan data

Selanjutnya kegiatan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengikuti pola yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992), yakni melalui: 1). Wawancara, 2). Observasi, 3). Studi dokumentasi.

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan jenis wawancara dengan pedoman umum dimana peneliti dilengkapi panduan wawancara yang sangat umum yang hanya akan mencantumkan isu-isu yang harus diteliti tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit. Peneliti juga akan menggunakan model pertanyaan open question dan close question di dalamnya. Peneliti juga menyertakan metode wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara konvensasional yang informal, dimana proses wawancara ini didasarkan penuh pada perkembangan pertanyaan secara spontan dalam interaksi alamiah. Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan jenis observasi non partisipan, dimana observer tidak ikut terlibat penuh dalam kegiatan observasi tersebut. Peneliti mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dari perspektif merekam yang terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut.

E. Teknik Menjamin Keabsahan Data

Pemeriksaan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan teknik yang dikemukakan oleh Maleong, (2001), yaitu :

1. Perpanjangan keikutsertaan

2. Ketekunan Pengamatan

3. Triangulasi

Metode yang digunakan dalam triangulasi ini antara lain :

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan wawancara

b. Membandingkan persepsi dan perilaku seseorang dengan orang lain

c. Membandingkan data dokumentasi dengan wawancara

d. Melakukan perbandingan dengan teman sejawat

e. Membandingkan hasil temuan dengan teori

4. Pemeriksaan teman sejawat melalui diskusi

Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara dalam bentuk diskusi dengan pembimbing, penguji, dan teman sejawat.

F. Teknik analisis data

Teknik analisis data dalam penelitian ini akan menggunakan metode seperti yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1992) dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Reduksi data

2. Penyajian data

3. Menarik kesimpulan

4. verifikasi

Reduksi data dalam penelitian ini akan dilakukan dalam bentuk proses pemilihan, pengeditan, pemusatan pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan di lapangan. Selanjutnya data yang merupakan sekumpulan informasi yang tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan dalam penelitian ini akan disajikan dalam bentuk matriks. Format matriks merupakan abstraksi atau penyederhanaan dari data kasar yang diperoleh dari catatan di lapangan. Penyusunan matriks beserta penentuan data kasar yang masuk akan dilakukan berdasarkan kasus atau topic bahasan. Selanjutnya dari data yang terdapat disusun dalam matriks tersebut, kemudian dilakukan penarikan kesimpulan yang dideskripsikan secara normatif.

DAFTAR PUSTAKA

Abizar, Agus I, Chatlinas S (1999). Buku Panduan Penulisan Tesis. Padang : PPs

Ahmad, R (1998).Psikologi Umum. Jakarta ; Rika Cipta

Efendi, O.U (1985).Psikologi management. Bandung ; Alumni

Muhammmad Ikbal. Persepsi siswa terhadap Karier dan Pelaksanaan Bimbingan Karier di Sekolah Menengah Umum (SMU) 2 Sungai Penuh Kabupaten Kerinci. Tesis. 2004.

www. e-psikologi.com

Web Forum Upi. Remaja dan Rokok.indexs.php.hmtl

Pengikut